Senin, 01 Juli 2013

Keluhan AS untuk Negara-negara NATO


Tentara NATO

Amerika Serikat memang bisa dikatakan berhasil memberikan bantuan kepada sekutu-sekutu Eropanya agar angkatan bersenjata mereka menjadi lebih kuat dan efektif. Namun hal ini juga berkembang menjadi masalah bagi AS. Sudah sejak lama negara-negara Eropa dimanjakan dengan kekuatan militer AS yang selalu hadir untuk mereka.
Selama Perang Dingin (AS dan sekutu, VS Uni Soviet dan sekutu tahun 1947-1991), AS telah bertindak banyak untuk negara sekutunya di Eropa. Namun, sejak Perang Dingin berakhir, AS mulai membenci beban ini dan terlihat dalam beberapa tahun terakhir AS mulai enggan membahas kekurangan logistik dan peralatan dari sekutu NATO-nya.

Contoh terbaru tentang bagaimana "keluhan" AS ini muncul dapat dilihat di Mali dan Suriah. Pada awal tahun ini Perancis memimpin pembebasan wilayah utara Mali dengan pesawat tempurnya Rafale yang menggunakan bom pintar untuk menyerang basis-basis pemberontak. Hasilnya, sangat menghancurkan dan mengakibatkan cepatnya runtuh perlawanan pemberontak terhadap pasukan darat Perancis. Tapi sebagian besar dukungan udara Perancis ini tidak akan bisa dilakukan tanpa bantuan pesawat tanker AS. Ada juga kekurangan Perancis lainnya seperti pesawat intai, terutama yang bisa melakukan pemantauan elektronik (untuk memonitor komunikasi pemberontak di darat). Sekarang NATO berada di bawah tekanan untuk membantu pemberontak Suriah dengan dukungan udara, seperti yang mereka lakukan terhadap Libya dua tahun lalu. Ini juga tidak akan terjadi tanpa bantuan AS.

Libya pada tahun 2011, seharusnya adalah operasi Eropa. Kemudian NATO dibujuk untuk memimpin kampanye pengeboman (katanya melaksanakan perintah PBB unutk menghentikan pemimpin Libya Moammar Khadafi dari membunuh rakyatnya sendiri). NATO pun setuju untuk melakukannya. Ini sudah membuktikan bahwa mereka (Eropa) tidak memiliki kemampuan militer yang memadai untuk menyelesaikannya dengan sumber daya mereka sendiri. AS masih harus memasok sebagian besar pesawat tanker pengisi bahan bakar dan pesawat cerdas lainnya, serta mengirimkan banyak bom pintar karena sebagian besar negara NATO tidak memiliki stok yang banyak untuk senjata tersebut.

Ini bukan masalah baru. Selama Perang Dingin pun AS sudah mengeluhkan betapa tidak siapnya sebagian besar negara NATO dalam menghadapi perang sesungguhnya. Negara-negara tersebut sangat lega ketika Perang Dingin berakhir pada tahun 1991. Tapi kemudian muncul pula masalah konflik di Balkan (Serbia, Bosnia, Kroasia dll) sepanjang 1990-an. AS pun harus turun tangan karena negara-negara NATO Eropa tidak bisa menanganinya sendiri. Lalu terjadilah serangan 11 September 2001. Anggota NATO menawarkan bantuan di Afghanistan dan Irak. Kenyataannya janji mereka masih lebih besar daripada kinerja.

Keengganan Eropa untuk mengirimkan pasukan ke Irak atau Afghanistan lebih dari sekedar perbedaan politik belaka. Meskipun Eropa memiliki pasukan sekitar dua kali lebih banyak dari AS, namun keadaan mereka jauh dari kata fit untuk dikirimkan ke zona tempur. Ini juga yang menjadi masalah pada tahun 1990-an, ketika ada permintaan besar pasukan penjaga perdamaian di Balkan. Eropa tidak mampu menyelesaikannya dan AS harus datang dengan pasukan siap tempurnya. Tentara-tentara Eropa terbilang sulit untuk diterjunkan ke medan tempur, tapi mudah untuk pergi.

Menurut analis militer, angkatan bersenjata Eropa penuh dengan orang berseragam yang memiliki mentalitas pegawai sipilnya. Artinya, mereka berpikir dan bertindak layaknya warga sipil, bukan tentara. Lihat Belgia, 14 persen tentaranya mengalami obesitas dan tidak layak untuk tugas-tugas yang seharusnya mereka emban. Persentase ini bahkan lebih besar dari persentase obesitas seluruh penduduk Belgia yang 12 persen. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengembalikan pasukan ke kondisi fisik yang baik. Mungkin saja nanti bisa berhasil, namun kemungkinan berubahnya mental pasukan sangat kecil.

Selama Perang Dingin, Eropa mengisi sebagian besar pasukannya dari hasil wajib militer. Laki-laki muda bergabung untuk masa dua atau tiga tahun saja dan kemudian keluar lagi. Hanya sepertiga hingga setengahnya saja yang merupakan tentara profesional. Ditambah lagi banyaknya tentara profesional Eropa yang sudah kehilangan naluri tempur mereka, bahkan sebelum Perang Dingin berakhir. Ketika Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, sepertinya tidak ada lagi alasan kuat bagi seorang tentara Eropa untuk berpikir dan bertindak layaknya tentara sejati. Tentara hanyalah menjadi sebuah pekerjaan.
Eropa menghabiskan proporsi yang lebih tinggi dari anggaran pertahanan mereka untuk gaji tentara, menyebabkan sedikit uang untuk latihan, peralatan baru, dan perawatan. Ini sama saja dengan pasukan tua. Seharusnya ditujukan untuk bertempur, tapi kenyataannya anggaran pertahanan Eropa dialihkan untuk program lain yaitu "menciptakan lapangan kerja." Walaupun begitu, tidak semua negara Eropa, pengecualian adalah untuk Inggris dan Perancis. Kedua negara ini menuntut tentaranya agar tetap fit dan tetap mempertahankan standar pelatihan yang tinggi. Kebanyakan negara Eropa memang masih mempertahankan unit infanteri elit, tapi jumlahnya tidak banyak. Hanya Inggris dan Perancis yang masih memiliki kekuatan "reaksi cepat" yang dapat dikirm ke luar negeri dalam waktu singkat. Tapi tentu saja AS tetap menjadi yang terbesar.

Amerika juga unggul dalam kepemimpinan. AS telah lama mempertahankan kebijakan "up or out", yang memaksa tentara keluar dari kesatuan jika kinerja mereka tidak meningkat dalam kurun waktu tertentu. AS juga mempertahankan standar tinggi untuk tentara baru, sehingga jumlah pasukan AS yang siap tempur tetap banyak. Jumlah pasukan AS yang siap ke medan tempur juga jauh lebih banyak dari total seluruh tentara Eropa yang siap tempur.

Negara-negara Eropa selalu memiliki alasan, dan tidak pernah berubah, tidak memperdulikan AS yang mengeluh. Dengan postur militer negara-negara Eropa sebelumnya saja sudah terasa kurang, ini bahkan lebih parah, negara-negara Eropa saat ini banyak yang sudah merampingkan postur angkatan udaranya. Bukan hanya jumlah pesawat yang dikurangi tapi juga pengurangan porsi latihan. Selama lebih dari enam puluh tahun AS masih bisa terbantu dengan para pilot Eropa yang terlatih dan kompeten. Tapi sekarang Eropa sudah memotong jam terbang mereka, dan mereka jadi kurang terlatih.
Akhir kata, saya bukan bermaksud untuk bersimpati kepada AS atau juga mengharapkan militer NATO tumbuh kuat karena itu urusan mereka sendiri. Hanya memberikan sedikit gambaran tentang apa-apa saja yang terjadi di dalam tubuh NATO dengan harapan sobat bisa memaknainya. Terimakasih banyak sudah membaca.

[Foto via rickrozoff.wordpress.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar